Browse By

Ilmu Sains Di Balik Jersey Sepakbola Nike, Adidas, dan Puma yang Ketat

Ilmu Sains Di Balik Jersey Sepakbola Nike, Adidas, dan Puma yang Ketat

Sumber: sporttechie.com

Sebagai penggemar sepakbola, pasti anda pernah menonton beberapa pertandingan World Cup 2014 kemarin kan? Pernahkah anda penasaran dengan alasan di balik betapa ketatnya jersey sepakbola tersebut? Apakah hal itu adalah “marketing gimmick” dari perusahaan-perusahaan ini, sekaligus memamerkan tubuh para pemain sepakbola yang berotot untuk menarik perhatian penonton? Percaya atau tidak, ada ilmu sains yang diterapkan pada jersey ini, dan Nike, Adidas serta Puma menerapkannya secara berbeda.

Mario Balotelli in the 2014 Italy Home Kit that features PUMA's PWR ACTV Technology

Mario Balotelli in the 2014 Italy Home Kit that features PUMA’s PWR ACTV Technology

Alasan pertama: Puma dan Adidas sekarang melengkapi jersey mereka dengan semacam tape yang diletakkan pada bagian depan, untuk membuat tubuh pemain lebih rileks dan merangsang otot perut untuk keseimbangan dan stabilitas. Selain itu, di bagian belakang kaos, terdapat tape juga di dekat bahu dan punggung bawah untuk meningkatkan stabilitas dan merangsang otot punggung. Nah, untuk memberikan kinerja maksimal, tape ini harus diletakkan seketat mungkin dengan tubuh pemain.

Namun, hal ini tidak disebabkan sepenuhnya karena tape tersebut. Compression shirts, sleeves, dan leggings digunakan oleh atlit dari seluruh dunia untuk memberikan support dan meningkatkan sirkulasi darah. Karena itu, jersey sepakbola dibuat ketat supaya dapat meningkatkan sirkulasi darah yang akan berpengaruh pada waktu pemulihan tubuh. Dan melihat frekuensi terjadinya kram dan otot yang tertarik pada saat pertandingan sepakbola, waktu pemulihan yang cepat sangatlah penting.

Nike, Adidas, dan Puma memiliki tingkat keketatan jersey yang sangat mirip, dan memberikan performa yang sama bagi para penggunanya walaupun jersey Puma selalu terlihat lebih ketat. Perbedaan jersey masing-masing perusahaan tersebut terletak pada material yang digunakan, Nike menggunakan material Dri-FIT untuk penyerapan keringat dan menjaga tubuh pemain darikelembaban cuaca, Puma menggunakan DryCELL yang berfungsi mirip dengan Nike, dan Adidas menggunakan material Adizero yang diklaim lebih ringan 40% daripada material sebelumnya, dengan ventilasi dan kompresi yang lebih baik.

Pada akhirnya, jika anda ingin membeli jersey, pilihlah jersey yang paling nyaman dan memiliki desain yang paling cocok dengan anda, karena teknologi ketiga perusahaan ini sudah sangat maju dan tidak terlalu berbeda dalam penerapannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *