Posted on

Kehidupan : Sepakbola, Futsal, dan Kebudayaan Masyarakat yang Berbeda di Seluruh Dunia

Kami menemukan topik yang sangat menarik & inspiratif. Artikel berikut dikutip dari http://mattfutsalfejos.com/

Setelah Piala Dunia 2014 di Brazil, dan sebelum Kejuaraan Futsal Oceania, saya ingin menulis sedikit hasil dari pemantauan saya tentang perbedaan kebudayaan dan sudut pandang masyakrakat tentang sepakbola di beberapa negara. Tahun lalu, saya cukup beruntung menjadi bagian dari Technical Study Group di Kejuaraan Futsal Oceania 2013. Saya berencana untuk mempelajari olahraga futsal, namun ternyata saya mendapat ilmu lebih : saya juga mempelajari tentang masyarakat dan kebudayaannya. Beberapa negara yang berpartisipasi di turnamen tersebut adalah Australia, Malaysia, New Zealand, Solomon Islands, Vanuatu, PNG, Tahiti, dan tim usia muda dari New Zealand.

Saya melihat beberapa perbedaan – Pemain dan Supporter Malaysia sangat ramah dan sopan. Tahiti & Australia sangat terorganisir, fit secara fisik, dan sistematis dalam strategi. Di Piala Dunia 2014 kemarin, Supporter Jepang sangat positif dan sangat menghormati lawan, sedangkan Kolombia sangat ekspresif dan kolektif saat selebrasi (“sangat Brazil” dibandingkan dengan tim nasional Brazil sendiri).

Yang menarik perhatian saya adalah Vanuatu dan Solomon Islands bermain dengan kegembiraan, ekspresi, kebersamaan, dan terus menguji kemampuan mereka dalam setiap situasi one-on-one. Mereka bermain seperti para pemain lokal yang sering bermain di pantai di Natal, Recife, Salvador, & Rio, Brazil.

Tugas utama saya saat bergabung TSG, terletak di Vanuatu. Saya ingat menonton pertandingan vs Australia, yang sudah pernah berpartisipasi dalam Piala Dunia & Asia, dan merupakan salah satu tim terkuat dalam turnamen. Vanuatu mendapatkan situasi 3 vs 2 sebanyak 7 kali (3 penyerang vs 2 pemain bertahan, kesempatan yang sangat baik untuk menciptakan gol). Namun mereka kalah 6-1 dari Australia.

Saya berpikir, betapa besar potensi mereka. Mereka memiliki pemain-pemain dengan skill individu terbaik. Seharusnya mereka dapat bermain jauh lebih baik melawan Australia, jika mereka mempelajari dan mengerti taktik dasar dalam olahraga futsal, seperti situasi 3 vs 2 tersebut.

(Sebagai contoh: sebisa mungkin arahkan bola ke tengah lapangan dalam situasi ini, sehingga kita dapat memaksimalkan opsi passing, bukan di area sayap, karena sudut & pilihan passing akan terpotong karena garis batas lapangan, dimana tim lawan cukup dengan menutup jangkauan passing dari pemain yang membawa bola, dan tidak lama pemain tersebut akan terisolasi.)

Saya berbincang dengan beberapa orang yang berpartisipasi di tim Solomon Islands. Tim mereka terdiri dari pemain yang sangat berbahaya dalam situasi 1v1, berbakat, eksplosif, dan kreatif. Beberapa bahkan pernah menjadi pemain professional di negara lain. Mereka sudah pernah bermain dua kali di Piala Dunia Futsal, sebuah kompetisi bertekanan tinggi dan result oriented sebagai underdog yang kuat. The boys from the Solomon Islands, The Kurukuru, at the FIFA Futsal World Cup.

Kelihatannya, Piala Dunia & aspirasi sebagai professional bukanlah tujuan utama para pemain ini. Saat mereka menjadi pemain professional di negara lain, atau bertanding di Piala Dunia, mereka justru menjauhkan diri dari tujuan utama mereka – kegembiraan, skill, ekspresi, dan kebersamaan.

Di New Zealand, tujuan utama para pemain muda adalah keluar negeri, pergi ke negara lain dimana olahraga futsal lebih berkembang. Namun, dengan berdirinya klub futsal Wellington Phoenix, hal tersebut sedikit berubah, dan menciptakan jalan bagi para pemain muda. Walaupun saya yakin, para pemain muda pasti berharap, Phoenix dapat menjadi batu loncatan mereka untuk bermain di negara lain.

Mungkin hal inilah yang membedakan dengan Solomon Island, dan mungkin dapat membantu perkembangan mereka. Pemain terbaik mereka bermain di kompetisi lokal dan memiliki kualitas di atas rata-rata, dan pemain nasional mereka dapat mengajarkan & membimbing para pemain muda, bukan menjadi image media yang tidak terjangkau oleh masyarakat. Mereka dapat bermain bersama, saling mengembangkan diri, dan mencapai tujuan yang lebih besar : mewakili Solomon Island di kancah internasional, dengan bermain sesuai cara mereka : gaya Solomon Island.

The Solomons and Vanuatu celebrate unity together after doing battle.

Akhirnya saya menyadari bahwa kami bermain untuk alasan & tujuan yang berbeda. OFC Futsal Development Officer Paul Toohey mengungkapkan hal tersebut secara sempurna: “Di New Zealand, kita mendaftarkan anak-anak ke akademi seminggu sekali dengan sepatu futsal Nike terbaru.Di Solomon Islands, mereka bermain dari pagi sampai sore” Crunching the numbers on the Solomon Islands vs New Zealand game.

Yang mana yang salah? Menjadi professional mengutamakan kemenangan, atau untuk kebahagiaan, skill, ekspresi, dan kebersamaan? Tidak ada yang salah – hal ini terjadi karena perbedaan kebudayaan. Yang penting, kita harus berpikiran terbuka satu sama lain, dan sebagai pelatih, kita harus tetap berfokus pada pengembangan pemain untuk mencapai tujuan mereka, bukan untuk tujuan kita.

Pelatih datang ke Solomon Island untuk mengajarkan para pemain bagaimana cara bermain futsal, namun melupakan alasan sebenarnya untuk bermain (selain uang, gaya hidup, keegoisan yang sering kita lihat di sepakbola dan futsal modern).

Saya tidak tahu jawaban yang benar dari pertanyaan di atas, namun saya ingin berpartisipasi lebih lanjut pada futsal di Solomon Island. Kami belajar banyak satu sama lain, di dalam dan di luar lapangan. Pada akhirnya saya belajar banyak dari Vanuatu, yang memiliki masyarakat paling bahagia di dunia menurut survey 2006.Vanuatu children playing football in an OFC/FIFA programme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *