Posted on

Last Man / Defender / Cierre : Pemain Bertahan sekaligus Jendral Lapangan dalam Permainan Futsal

Solid, bisa diandalkan, konsisten. Last Man adalah pemain yang berada di paling belakang garis pertahanan dan pondasi dari pertahanan, bahkan serangan sebuah tim. Hampir semua tim futsal dan sepakbola yang baik memiliki seorang pemain yang ahli dalam posisi ini, dan dalam artikel ini kami akan menjelaskan tentang posisi last man, serta bagaimana tim anda dapat berkembang dengan memanfaatkan keberadaan pemain ini.

Sumber : 5-a-side

Apa sih Pemain Last Man?

Pemain last man adalah pemain yang memiliki tanggung jawab paling besar untuk menjadi benteng pertahanan terakhir sebelum kiper, dan mengatur pertahanan serta serangan dari lini belakang. Selain itu, pemain ini harus dapat memotong serangan balik musuh dan mengembalikan penguasaan bola bagi timnya. Karena posisi nya yang berada di paling belakang, dan seringkali menjadi orang terakhir yang harus dilewati sebelum pemain lawan dapat melakukan tembakan ke gawang, maka pemain ini disebut “last man”.

Tim-tim futsal sering mengatakan bahwa mereka ingin bermain “total football”, dengan pemain yang terus melakukan rotasi di seluruh lini. Namun seringkali jika tidak ada pemain yang memiliki keahlian dan tanggung jawab berlebih dalam salah satu bidang (pertahanan ataupun serangan), justru tim-tim ini akan mengalami kesulitan. Formasi memang akan selalu fleksibel, dan posisi pemain akan selalu berotasi, namun harus selalu ada pemain yang memiliki keahlian lebih, terutama di sisi pertahanan yang dapat menyelesaikan tugas, dan dapat menjadi “pembersih” atas masalah-masalah yang ditimbulkan oleh kesalahan penyerang.

Kemampuan Kunci dari Pemain Last Man

Walaupun seringkali dipilih hanya karena mengucapkan “Kalian tenang saja, saya akan jaga di belakang”, pemain ini harus memiliki beberapa kemampuan kunci yang dapat membantu mereka melakukan tugasnya dengan baik:

  • Disiplin – Pemain ini harus menjaga posisinya supaya tidak terpancing ke depan, apalagi jika hanya disebabkan oleh kebosanan atau sifat “sok pahlawan”.
  • Kepemimpinan & Komunikasi – Pemain ini harus dapat memimpin dan memberikan instruksi yang jelas bagi pemain lainnya untuk dapat bertahan dan menyerang dengan baik.
  • Membaca Permainan  – Last Man adalah pemain terakhir di lini pertahanan, yang artinya dia memiliki sudut pandang yang paling luas dan berada di posisi yang paling baik untuk menentukan bagaimana timnya harus bertahan dan menyerang.
  • Konsistensi dan Pengambilan Keputusan  Last man yang baik tahu kapan harus memotong bola / melakukan intercept, kapan harus bertahan pada posisinya, kapan harus mengejar seorang pemain lawan, kapan harus membawa bola ke depan, kapan harus melakukan operan simple atau terobosan, kapan ia dapat melakukan shooting dan mencetak gol.

Peran pemain bertahan ini sangatlah penting, karena jika anda memilih pemain yang “kurang mampu” di posisi ini, anda hampir dipastikan akan kalah dan menjadi bulan-bulanan lawan anda.

Tanggung jawab dari Last Man

Sebuah tim dapat berjaya maupun menjadi bulan-bulanan, tergantung dari performa last man. Memang seorang kiper juga memegang posisi penting dalam pertahanan, namun pemain Last Man-lah yang berada di lapangan dan siap menghalau serangan lawan sebelum terjadi kesempatan mencetak gol. 3 tanggung jawab terbesar pemain Last Man ditunjukkan dalam diagram di bawah:

Defensive responsibilities of the Last Man

1. Menjaga ketat pemain terdepan / pivot lawan

Tanggung jawab utama dari seorang pemain Last Man adalah mematikan pemain pivot lawan (pemain Z pada diagram di atas). Jika bola dioperkan dari pemain X kepada pemain Z, maka pemain A (Last Man) harus siap untuk memotong aliran bola dan mengembalikan possession untuk timnya.

Tentu saja untuk melakukan intercept, Last Man tidak boleh ceroboh, karena jika salah timing, maka pemain lawan tinggal berhadapan 1 lawan 1 dengan penjaga gawang. Jika pemain Last Man tidak yakin dapat mengambil bola dari si penyerang, lebih baik Last Man mengambil posisi bertahan, dan bersiap untuk menghadang apabila pivot / penyerang lawan berputar dan menyerang ke arah gawang.

Apabila pemain Last Man berhasil memberikan tekanan kepada pivot / penyerang lawan sebelum mereka berbalik arah, maka sang Last Man dapat dikatakan telah melakukan tugasnya dengan baik. Apabila pivot / penyerang lawan sudah berhasil berbalik arah, maka pemain Last Man harus menghadang dan menutup ruang tembak mereka. Dosa terbesar dalam situasi ini, adalah apabila Last Man mencoba untuk merebut bola dari pemain lawan dan gagal : biasanya hal ini akan membuahkan gol, karena pivot berada dalam situasi 1 on 1 dengan kiper.

Namun, pemain Last Man yang baik akan sabar, dan mengambil jarak yang tepat untuk menutup ruang tembak dan mencegah supaya pemain lawan tidak dapat melewatinya.

Baca juga : Pivot, Target Man dan Jantung Serangan dalam Permainan Futsal

2. Mengatur rekan-rekannya dalam melakukan marking

Sebagai pemain yang berada di paling belakang, Last Man memiliki sudut pandang terluas, dan dapat memberikan instruksi supaya rekan-rekannya dapat bertahan dengan baik.

Pada diagram di atas, pemain X sedang memegang bola. Apabila ia bergerak maju, pemain C bisa saja terpancing untuk melakukan pressing. Hal ini dapat menyebabkan pemain Y memiliki ruang yang sangat luas di sisi kiri lapangan, dan apabila lawan berhasil mengalirkan bola kepada pemain Y, maka terciptalah peluang untuk mencetak gol. Pemain C mungkin tidak dapat melihat pemain Y di belakang mereka, namun Last Man dapat memperingatkan pemain C akan ancaman yang ada.

Cukup berikan instruksi yang singkat dan jelas seperti “C, jaga pemain di kiri belakang anda”. Maka pemain C akan menjaga posisinya, dan pemain B (seharusnya) akan melakukan pressing pada pemain Y. Tidak perlu pakai emosi / amarah.

Apabila Last Man dapat melakukan komunikasi dan memberikan instruksi dengan baik, maka sebuah tim akan menjadi sangat kuat dan sulit dikalahkan.

 3. Mengisi ruang di belakang dirinya dan rekan terdekat

Last man tidak hanya berfokus pada pivot / penyerang yang ia jaga, namun ia harus selalu waspada apabila ada bola yang berhasil dimainkan melewati rekan-rekannya (dalam hal ini biasanya pemain sayap / flank), untuk melakukan intercept dan mengambil kembali penguasaan bola. Pada diagram di atas, apabila pemain X mengoper bola ke belakang pemain B atau C, maka pemain Last Man A harus melakukan intercept dan mengambil penguasaan bola, TERUTAMA apabila bola dioperkan ke area yang berwarna kuning emas (di belakang posisi last man).

Apakah Last Man  harus selalu berada di Belakang untuk Bertahan?

TIDAK. Pemain Last Man terbaik selalu tahu kapan saatnya ia dapat memanfaatkan ruang yang ada, untuk membawa bola ke depan. Apabila Last Man tidak bisa melakukan hal tersebut, maka taktik timnya akan terbaca oleh lawan. Mereka dapat menjadi poros penyerangan tim, untuk mempertahankan penguasaan bola, dan menjadi pusat distribusi bola. Bahkan, di saat yang tepat, Last Man dapat melakukan tembakan untuk menciptakan gol. (1 lagi kemampuan kunci last man : long shot / tembakan jarak jauh).

Lawan biasanya tidak waspada akan ancaman yang dibuat oleh Last Man, jadi sesekali lakukanlah dribble, dan tembakan jarak jauh untuk menciptakan peluang bagi rekan anda, atau anda sendiri.

Last Man Membutuhkan Dukungan dari Rekan-Rekannya

Tidak jarang sebuah tim menjadi kacau apabila pemain bertahan mereka bergerak ke depan untuk menyerang dan tidak ada penyerang mereka yang mundur untuk memberikan support dalam pertahanan. Akhirnya saat serangan berhasil dipatahkan, penyerang musuh tinggal berhadapan langsung dengan kiper. Hal ini sangat penting untuk diingat pemain-pemain menyerang : saat Last Man bergerak maju, harus ada yang mundur ke belakang menggantikan posisi Last Man, walaupun hanya sementara. Apabila tidak ada rekan anda yang bergerak mundur, AMBIL INISIATIF. Apabila serangan sudah membuahkan gol ataupun dipatahkan lawan, pemain bertahan anda akan segera mengambil alih posisinya sebagai Last Man.

Selain itu, saat Last Man memiliki tanggung jawab untuk memberikan instruksi dan rekan-rekannya harus mendengarkan. Namun, apabila dibutuhkan, rekan setim juga harus memberikan instruksi satu sama lain, jangan bergantung pada Last Man, terutama apabila Last Man harus menghadapi Pivot lawan yang tangguh, sang Last Man harus berkonsentrasi penuh.

Alternatif dari Last Man

Beberapa tim memilih untuk tidak menggunakan Last Man (1 pemain utama dalam bertahan), namun memilih untuk memakai 2-3 pemain bertahan, dan menyerang balik saat lawan sudah lengah. Sebenarnya taktik ini juga bagus, namun, biasanya harus tetap ada semacam pemimpin dari lini pertahanan, supaya tidak terjadi kekacauan dalam bertahan dan menyerang. Paling tidak, dengan penggunaan pemain Last Man, ada seorang pemain yang bertanggung jawab penuh atas pertahanan, dapat mengatur yang lainnya, dan dapat memberikan ketenangan pada rekan-rekannya saat menyerang, serta menjadi sumber gol di saat yang tak terduga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *